Itulah judul berita utama hampir semua media massa baik cetak maupun elektronik Indonesia dalam beberapa hari terakhir ini. Berita ini kini mengimbangi ketenaran berita kasus Bibit-Chandra ataupun Kasus aliran dana Bank Century yang kini tengah memasuki babak baru, dimana para inisiator sudah kesana kemari cari dukungan para tokoh dan akhirnya DPR menyetujui pembentukan hak angket, …lho lho kok malah nyasar ke masalah lain…. OK, kembali ke lap, top. Bukan tanpa alasan mengapa MA sampai mengeluarkan “Fatwa” yang mengejutkan itu.

Alasan MA melarang pelaksanaan Ujian Nasional (untuk selanjutnya disingkat UN saja) adalah karena ternyata banyak siswa yang stress dalam menghadapi pekaksanaan UN tersebut. Bahkan saking stressnya banyak siswa yang stress beraaat alias depressi, dan itu melanggar HAM. eperti yang kita saksikan pada tayangan beberapa stasiun TV swasta. Dan tanggapan masyarakat pun bermunculan, para tokoh dan pengamat pun ramai-ramai mengomentari masalah ini, ada pengamat pendidikan, pengamat politik, pengamat sinetron bahkan pengamat sepak bola, ada yang setuju ada pula yang menyatakan tidak setuju dengan  alasannya masing-masing. Namun terlepas dari itu semua, kayaknya isu pelarangan UN ini terlalu bombastis dan sengaja di hembuskan disaat adanya isu-isu lain yang di inginkan supaya tengggelam dan  di “lupakan saja”. Mangapa demikian? Betapa tidak, diibaratkan ingin membasmi cicak (kali ini tanpa buaya) yang ada di rumah, eh kok malah dengan cara membakar rumah, kan so naif!! sementara masih bisa dengan cara lain. Cicak tetap dibasmi namun rumah tidak musnah. Begitu pula dengan masalah UN. Padahal UN untuk tujuan-tujuan tertentu masih diperlukan seperti standarisasi, akreditasi, evaluasi dan apa lah lagi yang sejenisnya. Yang perlu hanya membatasi pemanfaatan Nilai UN itu tidak serta merta langsung digunakan untuk memvonis kelulusan siswa. Penentuan kelulusan siswa sebaiknya dikembalikan kepada guru pengajarnya karena guru nya lah yang mengetahui dengan pasti layak tidaknya seorang siswa bisa lulus. Jadi, UN masih perlu dilaksanakan  namun ada pembatasan penggunaan nilai UN tersebut. Kayaknya ini merupakan jalan tengah yang baik –menurut saya- untuk semua pihak. Dan semoga anak-anak kita menjadi  pintar tanpa melalui fase stress segala. Tetaplah belajar.

Iklan